Imam Ibnul Qayim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adaah kedustaan. Maka tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.
Allah mengbarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan tidak ada yang mampu menyelamatkan dirinya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).
Nabi menganjurkan umatya utuk selalu jujura , karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut.
Sifat jujur alamat keislaman , timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi sipemilik sifat tersebut. Baginya kejujuran merupaka kedudukan yang tinggi , baik didunia maupun di akhirat . Dengan kejujuran, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keterpurukan.
Seseungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebiakan dan kebaikan mengatrakan kepada surga. Seseorang yang terbiasa berlaku jujur akan selalu mulia, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah swt. Adapun dusta menantarkan seseorang pada perilaku menyimpang dan perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Seseorang yang terbiasa berlaku dusta ia akan dijauhi oleh lingkungannya dan dipandang hina di hadapan Allah swt.
Seseorang yang berlaku jujur akan disenangi dan dipuji banyak orang , baik oleh kawan maupun lawan, mereka akan merasa tentram jika berada didekatnya. Berbeda dengan seorang pendusta , ia akan dijauhi banyak orang terlebih musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Al Maruzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. " Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?" Imam Ahmad menjawab dengan singkat" Dengan perilaku jujur". Beliau melanjutkan bahwa "Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan). " (Thabaqul Habilah.) Wasalam (www.kataislam.com)...****